Mengenal Taft

Selasa, Oktober 30, 2012


Menyebut nama Daihatsu Taft yang akan langsung terbayang dalam benak adalah sesosok jip pekerja yang sarat dengan ketangguhan dan minim perawatan. Image ini bukan hal yang terlalu dibesar-besarkan, pada kenyataannya Taft memiliki reputasi sebagai pekerja keras dari perkotaan hingga pertambangan jauh di daerah pedalaman.

Reputasi Taft di Indonesia sudah tersiar sejak awal jip ini diperkenalkan, akan tetapi semakin kental dengan diperkenalkannya generasi kedua (gen II) yang diawali debut Taft F70, atau yang terkenal dengan sebutan Taft GT. “Taft ini memiliki dimensi yang lebih besar dan mesin yang lebih bertenaga, namun juga bandel, sehingga dipandang lebih ‘manusiawi’ dibandingkan dengan pendahulunya,” terang H. Kiryono, seorang pengguna Taft GT lansiran 1995. “Sehingga tak mengherankan jika jip ini banyak disukai oleh kalangan luas,” sambung Dido pebengkel yang juga menggunakan jip yang diproduksi perusahaan asal Ikeda, Osaka, Jepang ini.

Indonesia mengenal sosok generasi kedua Taft sejak tahun 1985. Bentuknya yang gagah dan cukup moderen pada masa itu banyak menarik perhatian pasar otomotif nasional. Kehadiran jip bermesin diesel ini dinilai tepat, di mana Toyota Land Cruiser, Land Rover maupun Jeep CJ-7 yang terlebih dahulu menyerbu pasar dirasa mulai memudar eksistensinya.

Pada perkembangannya, Taft GT tidak hadir sendirian. Tapi diikuti F75 Rocky yang merupakan Taft medium wheelbase yang dilengkapi atap belakang fiberglass, dan penggerak 4x4. Bersamaan dengan itu, muncul pula F69 Hiline. Varian terakhir ini yang paling ‘rame’, beranggotakan Taft short wheelbase (SWB), medium wheelbase (MWB) dan long wheelbase (LWB) stationwagon, atau pikap 4x2. Jika menemui F69 berpenggerak 4x4, pasti merupakan optional ataupun pesanan khusus. Namun kesemuanya berawal dari F70 dan bahkan embel-embel GT yang seyogyanya hanya disematkan pada F70 terkadang masyarakat latah menyelipkannya di antara varian berkode di luar F70.

Sejarah Taft Gen II ditutup pada tahun 1995 dan selama sepuluh tahun kiprahnya, jip ini tergolong minim inovasi. Selama itu jip ini hanya dipersenjatai dua macam mesin DL41dan DL42 serta dua macam girboks, empat dan lima percepatan. “Model, ketangguhan, irit dan biaya perawatan rendah menjadikan Taft salah satu jip yang paling dilirik,” tutur Hendro Adhi Pramono dari bengkel AMS. Hendro banyak menangani jip yang banyak dipergunakan di areal pertambangan ini.

“Untuk meminang sebuah Taft GT sebenarnya bukan hal yang sulit, namun perlu mengingat bahwa jip ini banyak digunakan sebagai kendaraan operasional, berarti memiliki sejarah mobilitas yang tinggi,” wantinya.

Sama seperti kendaraan pada umumnya, jika mengidamkan Taft GT yang prima, perlu memperhatikan faktor utama seperti mesin, bodi dan drivetrain.
Bodi sasis
Bodi dan sasis merupakan bagian yang sangat vital dalam proses pemilihan. Bagian ini yang bakal menyedot biaya besar bila terjadi perbaikan. “Perbaikan sektor ini bisa menelan biaya lebih besar jika dibandingakan dengan perbaikan bagian lain seperti mesin sekalipun,” tutur Hendro Adhi. Penggunaan pelat tipis (0,9 mm) dan bodi panel mulus dan lebar membuat bodi Taft tergolong mudah penyok dan jadi santapan karat. Pelat tipis bak kaleng krupuk ini juga kerap pecah ataupun retak karena getaran mesin dieselnya.

Secara umum karat banyak bersemi di areal lantai, terutama lantai depan di bagian sopir dan penumpang sampingnya. Saat memilih, usahakan karpet yang menutupi lantai disibak. Selain itu bagian lisplang dan areal fender khususnya yang menggunakan overfender merupakan lokasi pembiakan karat lainnya.

Taft GTL terutama stationwagon merupakan jip buatan karoseri sehingga rentan dengan permasalahan karat. Bagian depan sampai dengan setelan pintu depan, merupakan bagian asli bikinan pabrik, sehingga memiliki konsekuensi yang sama dengan F70 ataupun F75. Sedangkan bodi bagian belakang memiliki kasus karat yang berbeda-beda sesuai dengan karoserinya.
Secara umum problem pada sasis gen II Taft ini sama. Bagian crossmember depan bagian dalam atau yang menghadap mesin biasanya diteror oleh korosi. Selain itu periksa juga bagian braket per depan yang menghadap ke dalam, yang merupakan areal lain yang sering terserang karat.
Mesin
Hanya ada dua mesin untuk generasi II Taft di Indonesia. Mesin DL41 2.765 cc dengan dilengkapi dengan timing gear untuk menggerakkan camshaftnya sehingga suara mesinnya kasar. Mesin ini menjadi jantung bagi generasi awal dari Taft Gen II. Keuntungan penggunaan timing gear ini ada pada perawatan yang ringan dan umurnya yang relatif panjang. Mesin ini dilengkapi dengan pompa injeksi inline yang mengkontribusi torsi besar.

DL42 merupakan mesin generasi selanjutnya. Kapasitasnya sama dengan DL41, namun mesin ini relatif lebih halus karena sudah menggunakan timing belt untuk menggerakkan camshaftnya. Pompa model rotari yang menyebabkan mesin ini lebih berjaya di jalanan raya namun harus rela kehilangan sedikit torsinya jika dibanding pendahulunya. 
Wajarnya mesin diesel, dua mesin ini tergolong memiliki suara kasar. Namun kuping harus jeli jika mesin terdengar lebih kasar dan muncul suara-suara yang tidak lazim, yang biasanya terdengar seperti logam yang bergesekan. Selain itu perhatikan pula slang breather yang biasanya menjulur dari mesin. Jika slang tadi mengeluarkan asap, maka bisa dipastikan bahwa ring piston sudah lemah. 
Drivetrain
Bagian ini terdiri atas gardan, girboks dan transfercase (bagi Taft 4x4).  Untuk mengeceknya, lebih gampangnya, kita harus mencoba jip tersebut terlebih dahulu. Perhatikan apakah ada suara mengaung pada bagian gardan belakang. Suara ini merupakan indikasi terjadi keausan gir gardan.

Hal ini pun berlaku untuk gardan depan. Tentunya kita harus terlebih dahulu memposisikan tongkat transfercase pada posisi 4H atau 4L. Cermati bunyi-bunyian yang ada saat roda berputar dan berbelok. Jika terdengar suara kletek-kletek, maka bisa dipastikan bahwa as roda telah memasuki masa peremajaan.
Sedangkan untuk girboks, cobalah untuk melakukan perpindahan gigi dengan cepat pada posisi gigi tinggi ke rendah, atau sebaliknya. Jika gigi perpindahan terasa berat dan seringkali gigi meloncat sendiri ke posisi netral, bisa dipastikan sinkromes bermasalah.

Gen II dari tahun ke tahun

Taft F70 terlahir sebagai pekerja keras yang mampu berkompromi dengan kondisi alam yang ganas dan bahan bakar berkualitas rendah. Sejak kemunculannya pada 1985, jip yang dikenal juga sebagai Taft GT ini menjadi primadona baru bagi penggemar off-road dan pelaku pertambangan.

Walau tidak pernah terjadi lonjakan, bukan berarti tidak terdapat perubahan. Selama 10 tahun kiprahnya, Taft F70 mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan kebutuhan zaman dan menjadi jejak rekaman sejarah untuk jip yang satu ini.

1985    : Menjadi tahun kelahiran bagi Taft F70. Dilengkapi dengan mesin diesel inline DL 41 berkapasitas 2.765cc.

1986    : F70 LWB pick-up diperkenalkan. Keluarga besar F69 diperkenalkan mulai dari tipe GTS(SWB), GTX(MWB) dan GTL(LWB)

1988    : Terjadi facelift, di mana lampu bundar diganti dengan lampu kotak dengan gril kecil sekaligus menjadi kiprah pertama F75 Rocky. Bersamaan dengan itu mesin pun diganti dengan tipe DL42.

1991    : Girboks 4 percepatan manual dipensiunkan. Girboks 5 percepatan manual pun didaulat sebagai penggantinya dan F70 pun bisa dipacu dengan lebih lega di jalanan aspal.

1992    : Facelift kembali terjadi, lampu kotak tetap dipertahankan, namun gril diganti dengan bentuk yang lebih besar.

1995    : Menjadi tahun pamungkas bagi F70 dan F75. Posisisnya digantikan oleh Taft F73 atau yang dikenal sebagai Taft Independent dan F78 Rocky Independent pada tahun 1996.
Suryo Sudjatmiko

0 komentar: